Trading itu sebenarnya sederhana, tapi kebanyakan trader membuatnya rumit


izinkan saya mengubah cara Anda memandang trading.
Menurut Anda trading itu rumit? Strategi, indikator, pola harga, time frame, manajemen risiko, psikologi pasar, struktur harga—semuanya terlihat begitu kompleks, bukan?
Padahal kenyataannya tidak.

Trading sebenarnya sangat sederhana. Masalahnya, kita sering kali tidak menyukai jawaban yang sederhana.

Coba pikirkan. Hampir setiap buku trading, setelah ratusan halaman penjelasan, pada akhirnya menyampaikan pesan yang sama: tunggu peluang yang tepat dan kelola risiko dengan baik.
Hampir setiap trader sukses juga mengatakan hal yang serupa: bersabarlah dan tetap disiplin.
Dan hampir semua kisah sukses di dunia trading memiliki pola yang sama: mereka menjalankan proses sederhana secara konsisten.

Tetapi ada satu masalah.
Itu terdengar membosankan.
Karena itulah banyak trader mulai menciptakan kerumitan. Mereka mencari sistem dengan belasan indikator, strategi revolusioner, pola rahasia, atau sesuatu yang terdengar eksklusif dan sulit dipahami.
Padahal selama mereka sibuk mencari jawaban yang rumit, pasar terus berteriak memberikan jawaban yang sederhana.

Namun kesederhanaan tidak terdengar menarik. Kesederhanaan tidak membuat seseorang merasa istimewa. Akibatnya, kita terus mengejar kompleksitas dan justru terjebak di dalamnya.
Lucunya, trading sebenarnya sudah sederhana sejak awal. Kitalah yang membuatnya menjadi rumit.
Mari kita buktikan.

Ada satu kebenaran yang hampir semua trader tahu dalam hati mereka, tetapi jarang mau mengakuinya.
Semakin keras Anda mengejar peluang, semakin sulit peluang itu ditemukan.
Peluang terbaik tidak bisa dipaksa muncul.

Semakin Anda berusaha mengendalikan setiap hasil, semakin cepat Anda kehilangan kendali.
Dalam psikologi, ini dikenal sebagai hukum terbalik. Semakin Anda memaksa sesuatu terjadi, semakin besar kemungkinan hasilnya justru menjauh.

Bayangkan seseorang yang panik saat berenang lalu berusaha mengayuh lebih keras. Bukannya mengapung, ia justru tenggelam lebih cepat.

Hal yang sama terjadi dalam trading.
Trader yang terlalu membutuhkan transaksi akhirnya melihat peluang yang sebenarnya tidak ada.
Trader yang terlalu membutuhkan profit mulai mengambil setup yang seharusnya dihindari.
Trader yang penuh tekanan justru gagal mengeksekusi peluang terbaik ketika peluang itu benar-benar datang.

Dan yang menarik, hampir semua trader tahu hal ini.
Mereka tahu bahwa trading dalam keadaan terdesak menghasilkan keputusan yang buruk.
Mereka tahu bahwa memaksakan transaksi akan merusak akun.
Namun apa yang mereka lakukan?

Mereka justru mengamati grafik lebih lama.
Mereka menambah indikator.
Mereka melakukan analisis lebih banyak.
Mereka bekerja lebih keras.
Mereka melakukan hal yang sudah mereka tahu akan menjadi bumerang.
Mari kita kenal eric.

Selama hampir satu tahun, eric menjalani rutinitas yang sama setiap hari.
Ia bangun pukul lima pagi untuk mempersiapkan rencana tradingnya. Dua monitor besar menyala di mejanya. Enam grafik terbuka bersamaan. Tiga cangkir kopi menemani proses analisisnya.
Ia memiliki sistem yang sangat rumit.
Ada 19 syarat yang harus terpenuhi sebelum masuk pasar.

RSI harus menunjukkan sinyal tertentu.
Volume harus sesuai.
Pola candlestick harus muncul.
Level support dan resistance harus tepat.
Retracement Fibonacci harus berada di posisi ideal.
Dan masih banyak lagi.

Setiap hari ia menghabiskan berjam-jam hanya untuk memindai grafik.
Kadang tujuh hingga delapan jam tanpa henti.
Masalahnya bukan sistemnya.
Masalahnya adalah apa yang terjadi setelah enam jam menunggu.
Ketika melihat setup yang memenuhi 18 dari 19 syarat, eric mulai berkata pada dirinya sendiri,

"Sudahlah, ini sudah cukup bagus."
Ia mulai mentoleransi satu syarat yang hilang.
Padahal syarat yang hilang itu sering kali menjadi pembeda antara transaksi berkualitas dan transaksi buruk.
Selama satu bulan, ia melakukan 23 transaksi.

Hanya empat transaksi yang benar-benar memenuhi seluruh 19 kriteria.
Dari empat transaksi itu, tiga berhasil mencapai target.
Sementara 19 transaksi lainnya hanyalah setup yang "hampir sempurna".
Dan sebagian besar dari transaksi tersebut berakhir rugi.
Keuntungan yang ia peroleh dari empat transaksi terbaik habis karena serangkaian transaksi yang dipaksakan.

Setelah sebelas bulan, akunnya hampir tidak bergerak.
Ia bekerja keras setiap hari tetapi tidak menghasilkan kemajuan yang berarti.
Lalu sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Laptopnya rusak.
Selama satu minggu penuh ia tidak bisa trading.
Tidak ada grafik.
Tidak ada pemindaian.
Tidak ada analisis.
Awalnya ia merasa frustrasi.

Namun setelah beberapa hari, ia menyadari sesuatu.
Ia merasa jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya.
Ketika laptopnya kembali, ia membuat keputusan sederhana.
Ia berhenti memindai grafik sepanjang hari.
Sekarang ia hanya membuka grafik dua kali sehari.

Sekali di pagi hari.
Sekali di sore hari.
Masing-masing hanya sekitar 10 menit.
Jika tidak ada setup sempurna, ia menutup platform dan melanjutkan hidupnya.
Pada hari ketiga, ia menemukan setup yang memenuhi seluruh kriterianya.
Bukan 18 dari 19.
Bukan hampir sempurna.
Melainkan benar-benar sempurna.

Ia masuk pasar, memasang stop loss dan target, lalu menutup laptopnya.
Empat jam kemudian target tercapai.
Satu transaksi menghasilkan lebih banyak keuntungan daripada puluhan transaksi yang ia lakukan selama bulan sebelumnya.
Dalam dua minggu berikutnya, ia hanya melakukan enam transaksi.
Lima di antaranya mencapai target.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, akun tradingnya mulai berkembang secara konsisten.
Apa yang berubah?
Bukan strateginya.
Bukan indikatornya.
Yang berubah adalah cara pandangnya.

Ia berhenti berburu peluang.
Ia mulai memeriksa apakah peluang benar-benar ada.
Jika ada, ia mengambilnya.
Jika tidak ada, ia pergi.
Peluang terbaik tidak bersembunyi.
Mereka hanya tidak muncul sesering yang kita harapkan.
Dan itu tidak masalah.
Sekarang mari kita bahas sesuatu yang lebih menarik.

Setiap kali Anda melakukan transaksi, otak Anda melepaskan dopamin.
Tidak peduli apakah transaksi itu menghasilkan keuntungan atau kerugian.
Bagi otak, yang penting adalah sensasinya.
Anda menekan tombol buy.
Dopamin.
Anda melihat harga bergerak.
Dopamin.
Anda menutup posisi.
Dopamin lagi.
Otak tidak terlalu peduli pada saldo akun.
Ia peduli pada stimulasi yang diterimanya.
Itulah sebabnya banyak trader melakukan transaksi saat bosan.
Bukan karena ada peluang yang bagus.
Tetapi karena mereka ingin merasakan sesuatu.

Trading menjadi alat untuk menghilangkan kebosanan.
Sama seperti seseorang yang terus membuka media sosial tanpa tujuan.
Yang dicari bukan informasi.
Yang dicari adalah rangsangan.
Penelitian menunjukkan bahwa otak dapat memperlakukan trading seperti perjudian ketika disiplin hilang.

Ketidakpastian hasil menciptakan respons saraf yang mirip dengan mesin slot.
Dan bagian yang paling berbahaya adalah sensasi dari transaksi buruk terasa hampir sama dengan sensasi dari transaksi yang baik.
Otak emosional tidak bisa membedakan keduanya.
Ia hanya tahu satu hal:
"Aku menekan tombol. Aku mendapat sensasi."

Itulah sebabnya banyak trader kecanduan aktivitas trading, bukan keuntungan trading.
Kabar baiknya, pola ini bisa diubah.
Setiap kebiasaan memiliki tiga komponen:
Pemicu.
Rutinitas.
Hadiah.
Dalam trading yang buruk, pemicunya adalah kebosanan.

Rutinitasnya adalah membuka posisi.
Hadiahnya adalah stimulasi.
Anda tidak bisa menghilangkan kebutuhan akan stimulasi.
Tetapi Anda bisa mengganti rutinitasnya.
Saat bosan, pergi berjalan kaki.
Berolahraga.
Membaca buku.
Melakukan aktivitas produktif lainnya.
Hadiahnya tetap ada, tetapi cara mendapatkannya berbeda.

Karena kenyataannya, sebagian besar aktivitas kita berjalan secara otomatis.
Pertanyaannya bukan apakah Anda memiliki autopilot.
Pertanyaannya adalah:
Siapa yang sedang memprogram autopilot tersebut?

Mungkin kebiasaan trading Anda saat ini sebenarnya dibentuk oleh versi diri Anda beberapa bulan yang lalu—versi yang lebih impulsif, lebih emosional, dan kurang disiplin. Kabar baiknya, program itu bisa diperbarui.

Sebenarnya, Anda tidak memiliki kebiasaan trading yang buruk. Yang Anda miliki adalah pola kebiasaan yang bekerja dengan sangat baik, tetapi menghasilkan konsekuensi yang buruk.
Setiap kebiasaan mengikuti pola yang sama: pemicu, tindakan, dan imbalan.
Misalnya, ketika stres muncul, Anda melakukan revenge trading. Itulah tindakannya. Lalu Anda merasa seolah-olah kembali memegang kendali. Itulah imbalannya.

Otak tidak peduli bahwa revenge trading mungkin menghancurkan akun Anda. Yang dipedulikannya hanyalah bahwa tindakan tersebut memberikan rasa lega sesaat. Karena itulah pola itu terus diulang.
Hal yang sama terjadi ketika rasa bosan muncul. Anda mulai mengambil setup yang sebenarnya tidak memenuhi kriteria. Aktivitas itu memberi rangsangan dan pelepasan dopamin. Otak menyukainya, sehingga kebiasaan tersebut terus berulang.

Saat mengalami kerugian, Anda mungkin langsung membuka posisi baru demi "membalas" pasar. Sekali lagi, yang dicari bukan keuntungan, melainkan perasaan bahwa Anda sedang melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan.
Bagi otak, rasa lega sementara sering kali lebih penting daripada hasil jangka panjang.
Inilah bagian yang menarik.

Anda tidak bisa benar-benar menghapus sebuah kebiasaan. Jalur saraf yang sudah terbentuk akan tetap ada. Namun Anda bisa mengubah cara jalur tersebut digunakan.
Pemicu yang sama bisa menghasilkan tindakan yang berbeda.

Saat stres datang, alih-alih melakukan revenge trading, Anda bisa berjalan kaki sebentar atau berolahraga ringan.
Saat bosan, daripada mencari transaksi baru, Anda bisa menutup grafik dan membaca buku.
Saat mengalami kerugian, daripada langsung masuk kembali ke pasar, Anda bisa mengambil jeda selama satu jam untuk menenangkan pikiran.

Pemicu dan imbalannya tetap sama. Yang berubah hanyalah tindakannya.
Sebagian besar trader menjalankan hampir setengah aktivitas mereka dengan mode autopilot seperti ini. Perbedaannya adalah apakah autopilot tersebut dirancang secara sadar atau terbentuk secara tidak sengaja.
Sekarang saatnya mendesain ulang sistem tersebut dengan sengaja.

Ada alasan lain mengapa begitu banyak trader kesulitan menghasilkan profit yang konsisten.
Mereka terlalu mengejar profit itu sendiri.
Keuntungan dalam trading mirip dengan kebahagiaan dalam hidup. Semakin Anda mengejarnya secara langsung, semakin sulit ia didapatkan. Namun ketika Anda fokus pada hal-hal yang benar, keuntungan sering datang sebagai konsekuensi alami.

Kita semua pernah mengalaminya.
Kita masuk ke pasar dengan pikiran seperti:
"Transaksi ini harus berhasil."
"Aku harus menutup kerugian kemarin."
"Aku harus mencapai target minggu ini."
Dan justru saat itulah masalah dimulai.
Kita mulai memindahkan stop loss.
Kita menutup posisi profit terlalu cepat.
Kita membiarkan posisi rugi berjalan terlalu lama.

Semua karena kita terlalu membutuhkan hasil tertentu.
Ilmu saraf menjelaskan fenomena ini dengan sangat baik.
Ketika seseorang terlalu menginginkan sesuatu, bagian otak yang mengatur rasa takut dan kecemasan mengambil alih proses pengambilan keputusan. Akibatnya, logika menjadi kabur dan emosi mulai mendominasi.

Itulah mengapa trader sering mengetahui apa yang seharusnya dilakukan, tetapi tetap melakukan hal yang salah.
Bukan karena kurang pengetahuan.
Melainkan karena rasa putus asa mengalahkan rasionalitas.
Solusinya sederhana, meskipun tidak selalu mudah.
Berhentilah mengejar profit secara langsung.
Fokuslah pada proses.
Tunggu setup terbaik.

Patuhi aturan yang telah Anda buat.
Hormati stop loss.
Jalankan rencana tanpa kompromi.
Ketika proses dijalankan dengan benar, profit biasanya akan mengikuti.
Paradoks terbesar dalam trading adalah semakin sedikit Anda merasa membutuhkan profit, semakin mudah profit itu datang.

Ada satu ironi yang sering tidak disadari trader.
Semakin keras Anda berusaha mengendalikan pasar, semakin sedikit kendali yang sebenarnya Anda miliki.
Anda merencanakan setiap entry dengan detail.
Menganalisis setiap pergerakan harga.
Mencoba memprediksi setiap kemungkinan.

Lalu pasar bergerak ke arah yang sama sekali tidak Anda perkirakan.
Karena kenyataannya, ada banyak hal yang tidak bisa dikendalikan.
Anda tidak bisa mengendalikan arah pasar.
Anda tidak bisa mengendalikan berita yang akan muncul.
Anda tidak bisa mengendalikan apa yang dilakukan trader lain.

Yang bisa Anda kendalikan hanyalah diri sendiri.
Anda bisa mengendalikan kapan masuk.
Anda bisa mengendalikan ukuran posisi.
Anda bisa mengendalikan stop loss.
Anda bisa mengendalikan respons terhadap kerugian.

Dan itulah satu-satunya kendali yang benar-benar penting.
Seorang trader bukanlah penguasa pasar.
Trader lebih mirip peselancar.
Lautan akan bergerak sesuka hati.
Tugas Anda bukan menghentikan ombak.
Tugas Anda adalah belajar menungganginya tanpa tenggelam.
Ketika Anda berhenti berusaha mengendalikan pasar dan mulai mengendalikan diri sendiri, performa trading biasanya meningkat secara drastis.


Hal terakhir yang perlu dipahami adalah bahwa sebagian besar keputusan trading sebenarnya dipengaruhi oleh emosi.
Banyak orang percaya bahwa mereka membuat keputusan secara rasional. Namun kenyataannya, otak emosional memproses informasi jauh lebih cepat daripada otak logis.
Sering kali, Anda sudah memutuskan akan mengambil sebuah transaksi sebelum sempat menjelaskan alasannya secara logis.

Itu bukan hal buruk.
Emosi bukanlah musuh.
Emosi adalah sumber informasi.
Rasa takut mungkin sedang memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan.
Keserakahan mungkin sedang menunjukkan bahwa Anda terlalu fokus pada hasil.
Masalah muncul ketika emosi langsung diterjemahkan menjadi tindakan tanpa jeda.
Trader yang rugi biasanya merasakan dorongan lalu langsung menekan tombol.

Trader yang konsisten menciptakan ruang di antara keduanya.
Mereka merasakan dorongan.
Mereka berhenti sejenak.
Mereka bernapas.
Mereka bertanya pada diri sendiri:
"Apakah ini sinyal dari sistem saya, atau hanya reaksi emosional?"

Jeda singkat itu sering kali menjadi pembeda antara keputusan yang baik dan keputusan yang mahal.
Karena pada akhirnya, trading bukanlah pertarungan melawan pasar.
Trading adalah pertarungan untuk mengelola diri sendiri.
Saya ingin disiplin.
Kalimat itu sering kita ucapkan pada diri sendiri. Masalahnya, pasar tidak menilai niat kita. Pasar hanya melihat tindakan yang kita lakukan.

Kita sering mengingat transaksi yang menghasilkan profit dan melupakan alasan sebenarnya mengapa kita masuk ke dalamnya. Kita menganggap keputusan kita hebat, padahal mungkin hanya kebetulan yang berpihak.
Ada sebuah fenomena psikologis yang disebut ilusi superioritas. Mayoritas orang percaya bahwa mereka berada di atas rata-rata. Dalam trading, hampir semua trader merasa mereka lebih baik daripada kebanyakan trader lainnya. Tentu saja, secara matematika itu mustahil.
Dan kemungkinan besar, Anda juga pernah merasakannya.

Masalahnya, bias seperti ini tidak bisa dihapus begitu saja. Bias sudah tertanam dalam cara kerja otak manusia.
Sejak zaman dahulu, otak manusia berevolusi untuk menemukan pola di mana-mana. Lebih aman melihat ancaman yang sebenarnya tidak ada daripada gagal melihat ancaman yang benar-benar ada.
Namun dalam trading, kecenderungan ini justru berbahaya.

Kita mulai melihat pola yang sebenarnya tidak ada. Kita melihat sinyal yang hanya ingin kita lihat. Dan sering kali itulah awal dari kerugian besar.
Karena itu, setiap kali Anda merasa sangat yakin terhadap sebuah transaksi, berhentilah sejenak.
Tanyakan kepada diri sendiri:
"Apakah ini fakta atau hanya bias yang sedang berbicara?"
"Apakah saya benar-benar melihat peluang, atau saya hanya mencari pembenaran atas keyakinan saya?"
Kesadaran sederhana seperti itu bisa menyelamatkan Anda dari banyak kesalahan.

Ada hal lain yang lebih mengejutkan.
Ingatan Anda tidak bekerja seperti kamera video.
Ingatan lebih mirip artikel yang terus diedit setiap kali Anda membacanya kembali.
Setiap kali Anda mengingat sebuah transaksi, Anda sebenarnya sedang mengubah sedikit detail dari transaksi tersebut.

Otak mengisi kekosongan dengan keyakinan saat ini, pengalaman terbaru, bahkan emosi yang sedang Anda rasakan.
Akibatnya, Anda tidak mengingat transaksi yang sebenarnya terjadi.
Anda mengingat versi terakhir dari cerita yang sudah berkali-kali direvisi oleh pikiran Anda sendiri.
Penelitian menunjukkan bahwa trader sering kali mengingat masa lalu mereka secara berbeda dari kenyataan yang tercatat dalam jurnal.

Mereka mengingat rentetan kemenangan sebagai hasil disiplin sempurna, padahal catatan menunjukkan mereka beberapa kali melanggar aturan dan hanya sedang beruntung.
Mereka mengingat kerugian besar sebagai nasib buruk, sementara jurnal menunjukkan adanya overtrading, revenge trading, atau manajemen risiko yang buruk.
Itulah mengapa jurnal trading sangat penting.

Jurnal tidak memiliki ego.
Jurnal tidak membela diri.
Jurnal tidak mengubah cerita.
Jurnal hanya mencatat fakta.
Jika Anda ingin berkembang sebagai trader, percayalah pada data, bukan pada ingatan.

Sekarang mari membahas prinsip yang dapat mengubah cara Anda melihat trading.
Sebagian besar hasil Anda berasal dari sebagian kecil tindakan Anda.
Sering kali 20% transaksi menghasilkan 80% keuntungan.
20% kebiasaan menciptakan 80% kemajuan.
20% aturan melindungi Anda dari 80% kerugian.

Artinya, sebagian besar aktivitas yang Anda lakukan mungkin tidak terlalu penting.
Sebagian besar waktu yang dihabiskan untuk menatap grafik hanyalah kebisingan.
Sebagian besar analisis tambahan tidak memberikan nilai yang berarti.
Sebagian besar transaksi sebenarnya tidak perlu dilakukan.
Dan itu justru kabar baik.

Karena jika hanya sebagian kecil aktivitas yang benar-benar penting, maka Anda tidak perlu bekerja lebih keras.
Anda hanya perlu lebih selektif.
Temukan setup yang benar-benar menghasilkan uang.
Temukan aturan yang benar-benar melindungi akun Anda.
Temukan kebiasaan yang benar-benar meningkatkan performa.

Lalu fokuslah pada hal-hal tersebut.
Sisanya hanyalah gangguan.
Banyak trader terlihat sibuk, tetapi sebenarnya mereka hanya sedang memainkan peran sebagai trader.
Trader yang sukses tidak terlihat sibuk.
Mereka terlihat sabar.

Sekarang mari bicara tentang kekuatan yang sering diremehkan: perbaikan kecil.
Bayangkan Anda menjadi hanya 1% lebih baik setiap hari.
Terdengar tidak berarti, bukan?
Namun jika dilakukan terus-menerus selama satu tahun, hasilnya bisa mengubah segalanya.
Satu transaksi yang dieksekusi dengan sempurna mungkin tidak mengubah hidup Anda.
Tetapi ratusan transaksi yang dieksekusi dengan disiplin akan mengubah akun Anda secara drastis.
Menulis satu catatan jurnal mungkin terasa sepele.

Namun menulis jurnal setiap hari selama setahun akan menciptakan peta lengkap tentang psikologi trading Anda.
Mengikuti aturan sekali tidak memberikan dampak besar.
Mengikuti aturan setiap hari selama bertahun-tahun akan membentuk identitas baru sebagai trader.
Dan efek ini bekerja dua arah.

Satu pelanggaran aturan mungkin tampak tidak berbahaya.
Namun pelanggaran kecil yang dilakukan berulang kali dapat menghancurkan akun.
Satu revenge trade mungkin terlihat sepele.
Tetapi satu revenge trade setiap minggu selama setahun akan melatih otak Anda untuk menganggap perilaku tersebut normal.

Pilihan-pilihan kecil tidak terlihat penting sampai akumulasinya menjadi sangat besar.
Karena itu, rahasia sebenarnya bukanlah motivasi.
Bukan pula kemauan yang luar biasa kuat.
Rahasianya adalah sistem.

Satu aturan yang dipatuhi hari ini.
Satu catatan jurnal yang ditulis hari ini.
Satu keputusan emosional yang berhasil Anda hindari hari ini.
Biarkan efek akumulasi bekerja untuk Anda.

Pada akhirnya, trading bukanlah tentang menemukan strategi sempurna.
Trading adalah proses membangun versi terbaik dari diri Anda sendiri.
Anda tidak menemukan disiplin.
Anda membangunnya.
Anda tidak menemukan konsistensi.

Anda menciptakannya.
Hari demi hari.
Transaksi demi transaksi.
Pilihan demi pilihan.

Paradoks trading mengajarkan sesuatu yang sederhana:
Semakin sedikit Anda memaksa, semakin mudah peluang muncul.
Semakin sedikit Anda berusaha mengendalikan pasar, semakin baik Anda mengendalikan diri sendiri.
Semakin sedikit Anda mengejar profit, semakin besar kemungkinan profit datang menghampiri Anda.
Tugas Anda sebenarnya sangat sederhana.

Tunggu setup yang sesuai.
Masuk sesuai rencana.
Hormati stop loss.
Ambil target ketika waktunya tiba.

Lalu ulangi.
Trading tidak serumit yang kita bayangkan.
Kita hanya sering menolak kenyataan bahwa jawaban terbaik biasanya adalah yang paling sederhana.
Dan mungkin itulah rahasia terbesar dalam trading:
Tidak ada rahasia.
Yang ada hanyalah disiplin, konsistensi, dan kemampuan untuk melakukan hal-hal sederhana dengan baik, berulang kali, setiap hari.

 

Group Premium jsxtrader menyediakan layanan rekomendasi saham komplit secara real-time.
Kami akan mendampingi member mulai sejak pembelian sampai kapan harus dijual, termasuk penentuan berapa lot yang sebaiknya dibeli agar resiko terkendali.

Untuk info lebih lengkap, silakan Whatsapp kami di 081933933317

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Post